Sunday, May 29, 2016

‘’Mimpi yang sempurna’’


By yohana siallagan


Pagi itu sedang berlangsung pelajaran matematika, Kepala sekolah datang membawa seorang murid cantik. Rupanya anak kelas X A sedang kedatangan seorang siswa baru, namanya Dita pindahan dari Bali. Orangnya sangat cantik dan lembut.Dita memperkenalkan diri di depan kelas. Dia kemudian duduk di belakang Ana. Semua cowok berbisik melihat ada anak baru. Pelajaran dilanjutkan oleh Bu widya.
Ketika dikantin, Dion sahabat baiknya Ana datang menghampirinya yang sedang asyik makan bakso. Dia mengatakan bahwa Dita itu anak manis. Ana yang sifatnya kepo langsung nanya-nanya sahabatnya itu. Setelah selesai makan bakso, mereka balik ke kelas. Dion menyalam Dita dan berkenalan dengannya. Mereka cepat akrab.Banyak mereka bercerita. Ana juga menghampiri mereka berdua.
Ana janjian kepada Dion untuk menemaninya ke toko kaset. Dion mau saja. Sepulang sekolah, mereka langsung naik motor Dion dan pergi ke toko kaset. Sesampainya di toko, Ana langsung mencari kaset band kesukaanya ‘’Peterpan’’ dia sangat mengidolakan ariel dan suaranya, lagunya sangat menyentuh. Ketika sampai pada rak kaset, ada seorang pria sedang mengambil kaset peterpan, kaset itulah kaset terakhir yang tersedia di toko itu. Ana sempat memohon pada pria itu untuk membelinya tetapi cowok ganteng itu hanya cuek saja meninggalkan Ana.
Walaupun kecewa, tetapi dia tidak lantas putus asa, dia langsung memesan kaset kesukaannya pada penjaga toko. Mereka akhirnya pulang kerumah untuk mempersiapkan speech debate keesokan harinya antar sekolah. Dia belajar dan betul-betul memahaminya.Dia tak sabar akan bertanding dengan anak sma lainnya. Pertandingan speech debate akan dimulai. Team sekolah Tunas Bangsa adalah Ana, Dion dan Imel. Mereka melawan anak Tarumanegara. Sebelum memulai speech debate peserta  terlebih dahulu memperkenalkan diri kepada semua hadirin.
Ana optimis bahwa tim mereka akan menang. Saat berhadapan dengan anak Tarumanegara, Ana bertemu dengan cowok tampan di toko kaset itu,rupanya namanya Edo dan dia adalah salah satu peserta dari speech debate. Ana merasa bisa mengalahkan mereka.Speech debate pun dilakukan dalam bahasa inggris. Tepuk tangan riuh bergemuruh terdengar, serak sorai pada peserta. Semua peserta sangat antusias berkompetisi dengan yang lainnya.Akhirnya setelah selesai, Ana, Dion dan Amel langsung pergi ke kantin untuk makan siang sebentar.
Ketika di kantin mereka bertemu dengan Anak tarumanegara lainnya sedang makan siang juga. Mereka berbisik-bisik tentang sekolah Pelita, yaitu sekolah Ana dan kawan-kawanya. Ana tidak tahan dan langsung melabrak mereka. Dia bilang bahwa dia akan memenangkan pertandingan ini. Edo kemudian datang untuk menengahi perkelahian itu, mereka pun bubar. Pengumuman pemenang ternyata jatuh ketangan anak pelita bangsa, yaitu tim Ana dan kawan-kawan, mereka sangat bangga menerima piala tersebut. Ketika mereka pulang, Edo mengucapkan selamat pada Ana, Edo begitu perhatian padanya dengan senyum tampannya.
Ketika hari minggu, Anak sedang sibuk membaca buku yang baru di belinya sambil mendengar lagu peterpan, band yang paling dia sukai. Tiba-tiba, Ibu datang dan memberi tahu bahwa Ana kedatangan tamu, Ana sempat bingung dan menjumpainya di ruangan tamu. Ternyata Edo, Ana kaget karna dia belum mandi dan rambut acak-acakan, Edo berniat mengajak Ana untuk menonton film di bioskop, dia juga sudah minta izin sama Ibu Ana, Ibu Ajeng.
Keduanya berangkat dengan mobil Edo, mobil kodok klasik yang sangat nyaman, ketika itu lagu di radio berubah menjadi lagu peterpan, Mimpi yang sempurna. Ana cerita kepada Edo bahwa dia punya banyak cita-cita yang harus di wujudkan. Edo terkesima mendengar penuturan Ana yang polos nan ceplas-ceplos. Mereka menonton fill komedi, selama tayang mereka tertawa bebas. Sungguh pemandangan 2 insan yang sedang bahagia. Setelah itu, Mereka sempat makan es krim di toko. Es krim adalah kesukaan Edo, karna Cool like Ice  and Sweet like ice cream. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama.
Edo meraih tangan Ana dan mengatakan bahwa dia tak ingin berpisah darinya. Ana sangat senang berada di samping edo. Mereka sempat berfoto, makan siang, lihat bunga-bunga cantik. Mereka tak ingin di pisahkan. Edo menggenggam tangan Ana erat sekali dan dia bilang kalau dia sayang sekali pada ana. Ana tersenyum bahagia, Edo adalah orang yang paling dekat dengan dia. Kemudian, mereka pulang. Edo mengantarkan Ana dan memberikan oleh-oleh kepada Ibu Ajeng sebagai tanda terimakasih telah mengizinkan Ana bersamanya.

Ketika pukul 10.00 malam, Ana mendapat telepon bahwa Edo mengalami kecelakaan, Dia hampir tak percaya dan menjerit. Segera dia pergi ke rumah sakit, air matanya tak henti-henti mengalir. Sesampai di rumah sakit, Dia melihat orangtua Edo, Ana langsung memeluk mereka  berdua. Dokter yang baru keluar ruangan mengatakan bahwa Edo tidak dapat melewati masa kritisnya. Edo telah meninggal, dia meninggalkan orang-orang yang dikasihinya. Ana sangat tepukul dan melihat Edo sudah terbujur kaku, darah di wajahnya sudah membeku. Ana menjerit memanggil nama Edo, berharap dia bisa mendengar dan melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Keesokan harinya, Ana ikut pergi ke pemakaman Edo. Dia sangat bersedih. Wajah pucat dan badannya sangat lemah. Dia mengucapkan kata perpisahan terakhir kepada Edo, Pria yang sangat di sayanginya itu. Edo telah beristirahat dengan tenang di surga, dia sudah bahagia, Tak ada lagi rasa sakitnya, Mimpinya telah sempurna.

No comments:

Post a Comment