Rabu, 29 Juni 2016

Aku dan Pikiranku



Aku duduk santai di teras rumah sambil menikmati pemandangan sore, sejak di vonis asma akut aku menjadi lebih banyak beristirahat di rumah.
Mah, minum dulu kata anisa, anak sulungku.
Aku terhenyak, makasih nak, jawabku sambil meminta segelas air putih dari tangannya.

Semenjak  sakit, aku berhenti bekerja dan suamiku harus bekerja mulai pagi sampai malam, banyak pengeluaran untuk obatku harus di beli  sebulan sekali.
Tetapi aku masih bisa menulis . Tulisan kukukirimkan kepada majalah maupun koran, memang tidak banyak yang bisa diharapkan setidaknya aku hanya membantu perekonomian rumah tangga  kami.

Malam harinya, aku dan Anisa makan malam berdua, suamiku sudah menelepon dan harus lembur lagi.
Setelah makan, tak lupa aku melanjutkan tulisanku di layar komputer, aku berusaha menyelesaikan tulisanku dan waktunya sudah mepet. Aku berusaha keras.
Ketika pagi harinya, aku bangun dari tempat tidur, aku baru ingat bahwa aku ketiduran.

Segera aku memasak seperti biasa, telepon berdering di ruang tamu.
Halo, ya, jawabku singkat.
Mbak, aku akan menikah lho, mbak datang ya, jawabnya gembira.
Waduh, selamat ya Rani, mbak pasti datang, jawabku gembira.

Ketika sarapan pagi, aku segera memberitahu sama suamiku, sebenarnya dia agak malas kalau di ajak ke pesta.

Mas, lusa Rani akan menikah, kita di undang ke pestanya, kataku.
Jadi gimana mas, kita pergi kan, kasian Rani.
Aku berharap cemas melihat suamiku.
Aku nggak bisa mah, kan aku harus meeting, jawabnya singkat.

Aku langsung kesal melihatnya bertingkah begitu.
Kamu kok gitu sih mas, kita udah di undang loh, masak kamu nggak datang? Jawabku kesal.
Akan aku usahakan, soalnya meeting ini penting mah, tapi kalaupun bisa aku pasti terlambat, jawabnya lembut.

Ya, sudah nggak apa-apa, aku akan berangkat kesana duluan, tapi kamu harus nyusul, yang penting mereka lihat kita berdua. Nanti di kiranya kita bertengkar lagi, kan nggak enak.

Suamiku memang begitu, dia tak banyak bicara dan perkataannya nggak boleh di tentang, dia sama sekali nggak romantis. Aku sering memperhatikan dia pulang larut malam sampai-sampai dia nggak pernah makan malam di rumah, aku cuman bisa lihat dia pagi sama malam aja.

Aku tidak mengerti jalan pikirannya, dia tidak pernah meluangkan waktu untukku, apa dia sudah mulai bosan denganku? Apa karna aku sakit? Apa dia sudah punya yang lain? Aku sering menangis karna merasa kami ini bukan lagi suami istri yang harmonis.
Aku berangkat ke resepsi Rani sendirian, sebenarnya hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke 8 tahun tapi dia mana pernah ingat, jadi aku diamkan saja.

www.sebarkanlah.org

Aku keliling mencari suamiku dan mengusir rasa bosanku, aku tiba-tiba kecapaian, aku  nggak bisa bernafas, aku mencari obatku di dalam tas, aku sangat panik dan parahnya tak ku temukan inhaler di dalam tas, pandanganlu mulai kabur,

Kulihat ada pria datang berlari, dia langsung menyemprotkan inhaler  ke hidungku, dia ternyata suamiku, aku lemas di pelukannya.  Aku segera di bawa ke ruangan terbuka, dia menggendongku.
Aku memang pelupa, bagaimana jika suamiku tidak datang dengan cepat? Mungkin.......
Ah aku tidak berani membayangkan, aku memeluknya dengan erat.

Setelah pulih, dia memberiku hadiah, kalung emas, dan dia mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan kepadaku, aku terharu, air mataku mengalir. Dia terlambat karna harus membeli kado tersebut, aku memang menyukainya kalung itu  ketika kami jalan-jalan ke mall, tapi aku tidak punya uang cukup untuk membelinya.

Sesampainya di rumah, aku menerima telepon bahwa aku memenangkan kontes menulis, aku tentu terkejut, bagaimana mungkin, seingatku, aku tidak mengirimkan apa-apa.
Ternyata suamiku bercerita bahwa malam itu, dia melihat aku tidur di depan komputer yang menyala, dia melihat tulisanku dan melanjutkannya dan mengirimkannya malam itu juga.


Aku terharu, aku memeluknya dengan erat. Aku tidak menyangka dia begitu peduli terhadapku, segera ku hapus pikiran negatif selama ini tentang dia. Ini  semua cukup membuktikan bahwa dia mencintaiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar