Sunday, September 18, 2016

[Book Review] Metafora Padma by Bernand Batubara

[Keterangan Buku]

Cover Metafora Padma

Judul: Metafora Padma
Penulis: Bernard Batubara
Editor: Siska Yuanita
Desain Sampul Eka Kurniawan
Ilustrasi Isi: Egha Latoya
Jenis Buku: Fiksi Kumpulan Cerpen
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit
 : 2016
ISBN 978-602-03-3297-0


“Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas.”

[Review]

Sebelumnya, aku cukup merasakan tanda tanya dengan cover Bunga mawar merah itu. Entah kenapa bunga itu menarik perhatianku. Kelopak bunga yang rontok menjadi teka-teki cerita. Kemudian ketika membaca sinopsis, aku merasa buku ini sangat menarik. Jadilah aku melahap Metafora padma dalam sekali duduk saja. Namun, cerita itu bukan hanya sekali duduk. Aku cukup merenung dibuatnya.

“Bukankah setiap rumah memiliki sejarah gelapnya masing-masing dan setiap manusia tetap akan pulang ke rumahnya, berdamai dengan masa lalunya sendiri?” (hal. 58)

Awalnya, aku tidak menyangka, but surprised buku ini berisi tentang 14 cerpen yang berbeda. Yang paling unik adalah buku ini banyak mengungkap luka lama, pembunuhan, dan kisah lainnya yang terkadang bikin saya merinding. Pada cerpen pertama yang berjudul Perkenalan saya dikenalkan dengan Kisah Harumi yang begitu menyayat hati. Kisah kelamnya dengan orangtua yang berbeda suku. Tak hanya itu ada juga kisah cinta, perselingkuhan dan dilema soal ketuhanan sampai perbedaan prinsip dalam hidup untuk mencari kebahagiaan. Berbagai macam cerita diangkat sang penulis dan buku ini sukses membuat saya merenung sejenak.


Tak sepenuhnya cerita berdarah atau horor yang membuat pembaca merinding, penulis juga menyisipkan cerita romansa dalam buku ini. Saya juga menemukan cerita yang cukup menggelitik yaitu cerpen berjudul Suatu Sore, cerita si penyembah ulat bulu yang mencari hamba ulat bulu dalam perjalanannya. Terus terang saya cukup geleng-geleng kepala dalam membaca dan membayangkan cerita ini.
Bagian favorit saya adalah cerita Hanya pantai yang Mengerti. Seorang wanita yang memilih berpindah kelain hati untuk kebahagiaan versi dirinya. Aku suka sekali dengan latarnya pantai, tampak sejuk dan alami. Kemudian cerpen kanibal, yang cukup menyita perhatian dengan tokoh yang memotong jari tangannya dengan pisau dan kapak. Hihi.... serem
Segala karakter dalam tokoh sangat hidup dan memiliki kisah masing-masing. Bertemakan waktu pada zaman dahulu membuat saya serasa membaca karya anak pujangga yang sangat mahir akan syair. Gaya kepenulisan sangat apik membuat saya cepat dengan mudah menangkap isi cerita.
Begitu banyak pesan yang ingin disampaikan sang penulis dalam setiap ceritanya. Ada makna tersirat maupun tersirat dalam setiap cerita.
Overall aku suka sekali dengan buku ini. Buku ini membuat saya membuka mata sekaligus memberikan pemikiran tentang sejarah dimasa lampau.

Rating :
4 stars of 5

[Tentang Penulis]

Bernard Batubara

Bernard Batubara atau biasa disebut Bara adalah  penulis penuh-waktu, yang lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), dan Jika Aku Milikmu (2015). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Agustus 2016, kumpulan cerita Metafora Padma.




1 comment:

  1. kakak baca novel ini buku cetak atau ebook. Jadi kepengen baca aku kak.

    ReplyDelete