Tuesday, August 30, 2016

Cerdas dalam menonton film


                                     

Mona, ayok makan de, cepat nasinya udah siap.
Bentar dulu ka, sinetronnya udah mulai nih, nanti aja yah.
Mona.... lima menit kemudian. Ayo de sambil menarik tangan Mona
Dengan ligat mona menyendok nasi dan ikan, kemudian dia berlari kembali dan duduk manis sambil menonton di depan TV.
***
Adik saya yang masih sepuluh tahun tidak pernah melewatkan sinetron kejar tayang balapan yang ada di Tv. Saya selalu heran kenapa mereka sangat menyukai sinetron tersebut. Alasannya, sinetron tersebut sangat keren, ada berbagai tema yang terkandung mulai dari percintaan, balapan, bahkan konflik yang kadang tidak masuk akal. Tetapi sekali lagi, anak sepuluh tahun selalu menanti –nantikan tayangan tersebut. Seperti tersihir, dia juga mulai mengidolakan sang tokoh dan mulai berangan-angan tinggi.
Terbukti dengan menonton TV, adik saya sampai lupa mengerjakan tugasnya. Dia akan mengambil remote TV dan menonton sinetron kesukaannya lupa dengan belajar bahkan lupa makan.
Televisi adalah sarana elektronik yang menyediakan berbagai macam  hiburan. Saat ini, tak terhitung jumlah sinetron yang sedang tayang. Mulai dari pagi sampai malam sepertinya acara Tv  Indonesia tak berhenti dengan tayangan sinetron seakan-akan tak kunjung habis.
Saat ini banyak sekali hiburan yang ditayangkan di televisi mulai dari sinetron yang sampai  iklan yang bertebaran seakan-akan tidak sabar menunggu tayangan berikutnya. Selain ditelevisi, ada juga film bioskop yang selalu menebar pesona untuk selalu dinikmati. Memang sangat menyenangkan tinggal duduk manis, anda bisa menikmati film favorit kesukaan ditambah dengan  makan camilan ataupun minuman kesukaan anda. Tidak ada yang salah, bagaimana seharusnya anda menikmati hiburan anda.
Saat ini, tayangan sinetron di TV cukup menyedot perhatian. Bagaimana tidak ? acara-acara di Televisi seolah olah di isi dengan tayangan sinetron yang tak berbobot dan tak mendidik.  Bagaimana tidak, sinetron yang kurang mendidik malah lebih banyak di siarkan, setiap hari. Coba bayangkan, jika sahabat punya anak yang menonton film remaja. Anak cenderung akan mengalami perubahan menjadi lebih dewasa belum waktunya. Saat ini, banyak film lebih banyak menampilkan adegan pasangan dengan drama percintaan. Sisanya, hanya sedikit tayangan anak kecil yang disiarkan.
Penelitian membuktikan bahwa anak kecil lebih sering menonton Tv daripada orang dewasa. Mereka akan menonton apa saja jika tidak mendapat pengawasan dari orangtua. Bagaimana peran orangtua menyikapi hal ini ? siapa seharusnya yang di salahkan ? Artis, Sutradara, atau penonton ?
Sinetron-sinetron yang berada di TV  telah lulus sensor dan mendapat izin resmi penayangan yang diberikan oleh LPI yaitu lembaga Perfiliman Indonesia. Mereka bertugas mengatur setiap film yang tanyang di TV. Lalu bagaimana jika mereka tetap menanyangkan Acara Tv yang tidak berbobot?
Nah, kita sebagai masyarakat harus mengambil sikap. Cukup nikmati saja acara Tv yang berbobot, selainnya jangan ditonton !
Sinetron dengan anak
Sinetron yang kurang mendidik tentu membahayakan bagi anak. Anak dapat meniru perangai maupun penampilan artis idola mereka yang mereka anggap keren. Bagaimana cara mengurangi dampak buruk sinetron untuk anak kecil ?
1.       Tanamkan sikap disiplin
Anak kecil harus diajari sejak dini. Jauhkan tontonan sinetron yang kurang mendidik kepada mereka kemudian tanamkan kepada si kecil bahwa menonton sinetron itu tidak baik. Buatlah jadwal anak untuk menonton. Batasi waktu mereka menonton. Misalnya anak hanya boleh menonton selama 1 jam, setelah selesai mengerjakan tugasnya.
2.      Orangtua mengontrol sang anak
Sebagai orangtua, tentu saja kita tak ingin anak kita terjerumus kepada hal yang negatif. Orangtua harus senantiasa menemani sang buah hati menonton film yang wajar. Tentu orangtua harus memilih film atau tayangan yang cocok, menghibur serta sebagai sarana si kecil untuk belajar. Ajarkan dan tanamkan kepada si kecil maksud dari film itu. Dengan begitu, sang anak akan selalu merasa aman bila menonton bersama orangtuanya. Melalui cara ini, hubungan orangtua dan anak sangat akrab.
3.      Mengganti aktivitas menonton
Anak yang selalu menonton akan mengalami kecanduan. Sebagai orangtua tentu kita berharap anak selalu pintar dan berprestasi. Menonton TV, dapat membuat anak lupa segalanya, lupa makan sampai belajar. Ganti aktivitas meonton anak dengan hal-hal yang lebih positif. Misalnya, ajak anak bermain di luar, bernyanyi, maupun belajar. Libatkan anak dengan hal-hal yang menyenangkan sehingga mereka merasa senang.
Ketika sinetron yang tidak mendidik selalu ditayangkan, otomatis kita sebagai orangtua harus bertindak untuk menyelamatkan generasi kita. Jangan mau menghabiskan waktu untuk menonton film sampah yang tidak mendidik. Jadilah penonton yang bijaksana, anda tahu apa yang harus anda lakukan. Jika lembaga perfiliman tidak  mau menyetop film yang tidak berkualitas sama sekali, marilah kita masyarakat indonesia menjadi penilai sekaligus pengeksekusi film tersebut. Bagaimana caranya? Jauhkan tayangan yang tidak mendidik itu. Jangan pernah membuka tayangan tersebut sehingga rating tayangan tersebut akan menurun. Itu tandanya, bahwa film tersebut tak ada yang menonton.
Ingat ! Film dapat membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan kita sehari-hari. Kebanyakan membawa pengaruh negatif. Kita cenderung meniru artis yang kita rasa sangat keren dan kita akan mengalami kecenderungan dalam kehidupan sosial.

Untuk itu, jangan terlalu sering manghabisakan menonton tv dan jadilah Lembaga Sensor Film itu sediri. Gunakan waktu luang anda untuk menonton televisi yang memang berkualitas, karna masih banyak lagi tayangan tv yang membawa dampak positif. Tanamkan rasa disiplin dan Budaya Sensor Mandiri sejak dini. Berpikir dan bersikap kritis dalam menonton tayangan.

***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition Lembaga Sensor Film





No comments:

Post a Comment